Tampilkan postingan dengan label Unek-Unek untuk Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unek-Unek untuk Indonesia. Tampilkan semua postingan

Manfaat Gambut untuk Umat

Sumber: WWF Indonesia

Kuliah hari ini terasa melelahkan. Belum lagi ditambah kondisi jalan yang tak pernah ada sepinya. Di rumah aku melihat Ayah sedang menonton televisi. Sepertinya Ayah sedang libur. Bekerja di sebuah media massa membuat Ayah memiliki hari libur yang beda dengan orang lain pada umumnya. Aku melihat Ayah sedang menonton berita. Tumben sekali.

Penasaran, aku mendekati layar kaca melihat berita apa yang sedang ditampilkan. Ternyata soal kebakaran hutan. Aku melihat Ayah geleng-geleng kepala. Kalau ekspresinya seperti ini, bisa dipastikan Ayah kesal. Apalagi kalau bukan isi berita yang ditayangkan. Aku membuka perbicaraan.

“Ada apa, Yah? Sepertinya ada yang tidak baik”

“Iya. Kebakaran lahan gambut masih saja terjadi. Padahal sudah dua tahun belakangan Presiden Joko WIdodo menegaskan untuk menghentikan pembakaran hutan terutama di lahan gambut. Apa mereka tidak tahu bahwa gambut itu sangat penting bagi kehidupan?”

Pernyataan Ayah ada benarnya. Kebakaran lahan gambut paling besar dan sampai disorot negara tetangga terjadi pada menjelang akhir tahun 2015. Pulau Sumatera dan Kalimantan yang menjadi salah satu paru-paru dunia karena kaya akan hutan tropis dan gambut, telah dikikis. Lahan gambut ini dialihkan menjadi tanaman sawit.

Aku melihat Ayah sedang menggebu-gebu. Kalau begitu aku panasi saja. “Bukannya membakar lahan gambut itu boleh ya, Yah. Sesuai Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 yaitu paling luas dua hektar.”

Ayah membetulkan posisi duduknya. Dia seperti gelisah mendengar pertanyaan aku. “Memang betul masyarakat adat sekitar dibolehkan membakar hutan untuk membuka lahan pertanian. Akan tetapi ini dimanfaatkan oknum yang jahat dengan menyuruh warga sekitar untuk membakar lahan, dimana itu juga lahan mereka. Nanti kalau terjadi masalah, oknum ini tinggal bilang itu ulah orang sekitar dan lahannya terbakar karena tidak begitu jauh dengan titik api.”

Belum aku memberi komentar Ayah sudah menyambar. “Sebenarnya perusahaan ini sudah memiliki ijin dari pemerintah setempat untuk membuka lahan dengan sarat yang ditentukan. Tapi karena ingin mendapatkan keuntungan maksimal, mereka malah membukanya dengan cara membakar. Metode membakar lahan memang dipercaya paling cepat, murah, dan efisien dibandingkan dengan menggunakan alat berat.”

Kali ini aku setuju dengan Ayah. Bahkan pada akhir tahun 2015 lalu ada keputusan yang sangat kontroversi oleh Pengadilan Negeri Palembang yang dipimpin oleh Parlas Nababan. Sang hakim menyatakan sebuah perusahaan pembakar hutan tidak bersalah. Dia bilang seperti ini, “Bakar hutan itu tidak merusak lingkungan hidup karena bisa ditanam lagi.”

Lucu memang argumentasinya. Ini menjadi angin segar bagi para pembakar lahan gambut. Meski beberapa saat kemudian hakim tersebut kena skors karena keputusannya tersebut. Mungkin juga disebabkan ulah warganet yang tidak terima dan geram dengan keputusannya.

Ayah mencoba menenangkan diri dengan menyeruput kopi yang ada di meja. “Kebakaran tahun 2015 lalu berdasarkan data pantaugambut.id, 52% lahan yang terbakar pada tahun itu adalah lahan gambut. Padahal gambut itu berperan penting dalam menyerap 75% karbon. Itu sebabnya gambut dilarang untuk dibakar.”

Memang akibat dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab tersebut, masyarakat yang tidak berdosa kena imbasnya. Penyakit datang menghampiri orang yang tinggal di kawasan terbakarnya gambut. Masih berdasarkan data pantaugambut.id, kerugian yang didapat Indonesia gara-gara kebakaran ini mencapai Rp 220 triliun. Angka yang sangat tidak sedikit.

Terlihat Ayah sudah mulai tenang. Kali ini gantian aku memberikan komentar. “Pemerintah tidak tinggal diam, Yah. Kebakaran hutan dari tahun ke tahun sudah berkurang. Dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, ada 2810 titik kebakaran. Tahun 2016 turun menjadi 1917 titik. Di tahun ini turun 10 kali lipat menjadi 157 kebaran,” aku sengaja keluarkan data agar tidak dibantah Ayah.

Ayah terlihat serius mendengar. Kesempatan untuk memberikan tambahan, “Luas hutan yang terbakar juga menunjukkan penurunan dari 2,61 juta hektar pada tahun 2015, di tahun 2016 menjadi 438 hektar. Tahun ini turun drastis menjadi 15983 hektar.”

Tidak hanya mau jadi pendengar, Ayah mulai angkat bicara. Kali ini ucapannya menunjukkan orang yang selayaknya menjadi panutan. “Memang pemerintah tidak diam. Upaya mengatasi kebakaran lahan gambut terus digalakkan. Tapi kita tidak boleh puas diri karena kebakaran masih ada. Yang penting jangan sampai keturunan kamu tidak bisa merasakan nikmatnya udara segar. Ingat, di Cina udara bersih sudah dijadikan barang komoditas!”

Sumber bacaan:
Pantaugambut.id
dibi.bnpb.go.id

Pasti Akan menyesal karena Telah Meremehkan

Sang ketua sedari tadi melihat-lihat buku catatannya. Sesekali dia menulis lalu mencoret apa yang dia tulis. Sebatang rokok tidak pula menemani dia yang tampaknya sedang berpikir keras. Ketua menggunakan otaknya dengan maksimal berharap mendapat ide cemerlang. Tak dipedulikannya keramaian yang ada di sekeliling.

Ini acara yang bisa dikatakan sangat penting. Acara perdana di jurusan. Ketua berinisiatif mengadakan acara ini karena iri dengan jurusan lain yang aktif mengadakan kegiatan minimal setahun sekali. Bagaimana dengan jurusanku? Tiga tahun kuliah aku tidak pernah melihat ada kegiatan yang wah dan bisa dikenang.

Ide Ketua bagus sebenarnya. Teman satu angkatan setuju mengadakan acara ini. Lalu siapa yang jadi jenderal acara? Seperti biasa tidak ada yang bersedia. Ujung-ujungnya yang memberikan ide ditunjuk sebagai orang yang bertanggung jawab atas pelaksanaan acara. Tidak ada yang keberatan dengan pemilihan yang berlangsung cepat itu.

Beberapa hari setelah pemilihan, belum ada kumpul untuk membahas kegiatan yang akan dilaksanakan. Entah memang tidak ada rapat atau memang aku yang tidak dapat kabar. Nyatanya memang sudah ada pertemuan setelah pemilihan Ketua.

Karena dia berbeda kelas, hanya teman sekelasnya saja yang tahu. Sedangkan kami kuliah seakan-akan tidak ada sesuatu yang genting. Bagi kami tidak masalah kalau memang kami dilupakan. Toh kami tidak rugi jika tidak bergabung. Kecuali jika masuk nilai mata kuliah. Beda lagi itu ceritanya.

Kami teman sekelas seperti biasa nongkrong di lantai dasar fakultas. Kami ketawa-ketawa membahas yang lucu. Dari kejauhan Ketua menghampiri kami. Dia menyambangi salah satu di antara kerumunan. Kerumunan ini tidak hanya pria saja, wanita juga ada dan membuat kelompoknya masing-masing. Meski beda kelompok kami tetap satu kesatuan.

Ilustrasi kumpul di lantai dasar fakultas. Foto diambil bulan Oktober 2009

Ketua ternyata menghampiri sekertarisnya. Sekertaris sendiri tidak begitu paham dengan keinginan ketua karena dia hanya disuruh membuat surat dan mencatat apa yang keluar dari mulut ketua. Aku penasaran dengan perbincangan mereka. Meski sudah tahu kegiatannya, kelas kami belum ada info kapan acara ini akan dilaksanakan.

“Jadi acara ini kapan Ketua diselenggarakan?” Aku bertanya karena ingin coba lebih aktif membantu acara perdana ini. Karena memang hampir setiap orang tidak pernah merasa memiliki jika tidak diundang atau diminta secara langsung. Kali ini aku mau mencoba untuk mengubah pola pikir itu. Tidak ada untungnya juga kan sok dibutuhkan seperti itu.

Raut wajah ketua yang tadinya serius berubah menjadi sinis. Alisnya ditekuk sebelah. “Kasih tahu ngga yaaa,” katanya dengan wajah ingin melucu. Setelah itu Ketua pergi tanpa memberikan jawaban padaku. “Anjir. Lu salah main-main sama gua,” aku berkata dalam hati.

Dia lupa bahwa aku orang yang cukup berpengaruh di kelas. Aku punya massa yang bisa ditarik untuk membantu persiapan acara. Aku sudah memantapkan diri untuk tidak berpartisipasi. Bukan hanya itu, aku ceritakan apa yang aku alami pada teman-teman kelas. Mereka pun terpengaruh dengan respon Ketua yang meremehkan aku. Kami sepakat melupakan acara untuk mahasiswa Jurnalistik ini. Anggap saja tidak terjadi apa-apa dan jalankan kegiatan seperti biasa.

Sepertinya info ini sudah sampai pada telinga Ketua. Beberapa kali mengadakan rapat tidak ada perwakilan dari kelas kami. Yang datang hanya Sekertaris yang memang selalu diminta hadir. Ketua sadar dia salah. Dia berpikir harus bertindak sesuatu agar tidak terus seperti ini. Ketua putuskan untuk meminta maaf.

Keesokan harinya seperti biasa kami tertawa-tawa di lantai dasar fakultas. Mata kuliah hari ini cuma satu jadi kami bisa nongkrong lebih lama. Lagi-lagi ketua datang ke tempat kami. Kami biasa saja karena sudah menganggap tidak ada apa-apa.

“Gua boleh minta waktu sebentar ga?” Tanya ketua pada semua orang yang sedang asik dengan kegiatannya. Kami semua diam lalu membuat lingkaran. Ternyata Ketua membicarakan soal acara yang dua bulan lagi akan terlaksana. Aku tidak ambil pusing masalahnya. Dia yang menanam benih, dia yang menuainya.

Tapi aku tetap menghargai pertemuan dadakan ini. Aku tidak membuat gaduh meski tidak mendengarkan omongannya. Intinya Ketua meminta agar kami ikut berpartisipasi dalam acara ini. Ketua lalu menatap lalu menepuk dengkulku berharap minta perhatian. Aku langsung menatap dia yang sedari tadi hanya melihat lantai sambil memainkan benda yang ada di sekitar.

“Gitu, Kep. Minta bantuannya ya,” kata Ketua. Kali ini tatapannya tidak seangkuh biasanya. Aku membaca mata Ketua seperti dia sedang meminta maaf atas kesalahannya. Bagiku ini sudah cukup. Dia meminta langsung khusus padaku di depan teman yang lain.

Setelah permintaan itu, aku datang setiap kali rapat. Kuajak teman yang lain meski tidak semuanya bisa ikut. Karena memang sejak awal mereka tidak tertarik untuk membantu. Teman sekelas ketua juga sama.

Dia meminta bantuan kelas kami karena massa yang bergabung dari kelasnya sudah maksimal. Menurutku tidak apa sedikit panitianya yang penting kami kompak. Nanti juga saat acara berlangsung pada datang untuk memperlihatkan bahwa mereka ikut berjasa atas kesuksesan acara tersebut.

Ilustrasi kegiatan jurusan. Waktu pengambilan foto dirahasiakan.

Pelajaran dari cerita ini adalah jangan pernah menganggap remeh siapapun. Engkau tidak pernah tahu kalau orang yang kamu nilai rendah itu suatu saat nanti menjadi orang penting di dalam hidupmu. Karena jika tidak bisa berkata dengan baik, mendingan diam. Kecuali dia orang yang sudah akrab dengan kita. 

Ketika Niat Baik Dinilai Salah

Aku selalu percaya bahwa kehidupan itu akan ada masa di mana sesuatu akan menjadi terpuruk. Akan tetapi setelah itu muncul masa emas. Yang jadi permasalahannya adalah konsistensi untuk menjaga agar sesuatu itu ketika sudah berada di puncak tidak jatuh jauh ke tanah. Boleh turun tapi jangan sampai terlena dengan keterpurukan. Harus segera dicari inti masalah lalu dapatkan jalan keluarnya.

Bingung dengan kalimat di atas? Kita langsung ke kasus saja. Di hunian tempatku tinggal, pemudanya aktif dalam kegiatan sosial hingga terbentuk karang taruna. Wadah tempat pemuda kumpul untuk mengadakan kegiatan apapun yang berguna agar tercipta kegiatan positif. Mereka sangat aktif dalam mengadakan kegiatan.

Hingga sampai masa jaya pemuda ini berakhir. Ketika itu aku masih berusia 14 tahun jadi belum masuk golongan mereka karena usia segitu disebut remaja. Tapi tidak usah kita memperdebatkan arti kata pemuda. Intinya, orang-orang yang aktif di situ adalah mereka yang lebih tua beberapa tahun dariku.

Setelah masa puncak itu, kegiatan pemuda benar-benar mati. Aku tidak tahu kenapa bisa terjadi saat itu. Namanya juga gosip, pasti akan menyebar. Sejarah ketika kecil pun aku dapat setelah sekian lama merangkainya. Singkat cerita, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Kepercayaan itu sangat berharga, maka jangan kecewakan orang yang memberinya.

Bertahun-tahun kegiatan pemuda mati. Tidak ada orang yang sanggup untuk menggerakkan kegiatan. Sesosok pemimpin itu masih terus tersembunyi. Ada yang mencoba untuk memulai tapi masih dalam ruang lingkup kecil. Dia tidak mampu menjadi daya tarik massa. Padahal sebelumnya organisasi ini memiliki massa yang banyak dan kegiatannya sangat aktif

Tahun 2007 kami kedatangan warga baru. Belum genap setahun, dia sudah langsung mengumpulkan pemuda atas nama remaja perumahan. Namanya juga sebuah tindakan, pasti ada saja yang suka dan tidak. Tudingan negatif pun menyebar di perkumpulan yang memiliki skala kecil ini.

"Saya tidak tahu maksudnya apa. Tapi dengan dia menggunakan nama pemuda komplek seakan-akan ingin menjadi lilin di tengah kegelapan lalu menjadi matahari. Dia lupa kalau kita punya karang taruna," kata orang yang sangat mencintai organisasi yang ikut terpuruk itu dan kini mencoba untuk mengembalikan masa kejayaan.

Perbincangan pun mengarah pada pembahasan orang baru ini. Dugaan-dugaan terus dilempar. Perbincangan bukan lagi membahas pada agenda apa yang akan dilakukan, atau mendukung kegiatan agar kegiatan pemuda kembali hidup tapi sudah mengarah pada pikiran-pikiran buruk.

Akhirnya semua orang yang hadir dalam perbincangan itu ikut pada arus pikiran buruk. Meski begitu, undangan tetap dihadiri. Mereka ingin tahu apa yang akan dibahas dan bagaimana visi misinya mengadakan pertemuan ini. Setelah mendengar penjelasannya, aku tahu bahwa ambisi dia untuk menghidupkan remaja sungguh kuat.

Ambisi saja tidak cukup. Butuh karisma, kesabaran, dan keteguhan hati untuk benar-benar bisa melakukan ini. Beberapa tahun kemudian, dia diangkat menjadi pengurus RW membidangi pemuda dan olahraga. Meski demikian, tetap saja dia tidak bisa membangkitkan semangat remaja.

Dua tahun belakang, kembali ada warga baru di sini. Hampir sama dengan orang yang sebelumnya, dia sangat suka dengan kegiatan pemuda meski di umur yang sudah tua. Bedanya, kalau orang sebelumnya lebih pada kegiatan yang berjiwa nasionalis, orang ini cenderung kegiatan agamis.

Caranya pun berbeda. Dia mendekati ketua organisasi remaja masjid untuk mengetahui seluruh kegiatan. Dia memberikan masukan setiap acara yang akan diadakan. Dari situ ketua remaja masjid selalu konsultasi padanya.

Karena kedekatan itu dan terlalu dekat dengan remaja, kembali muncul pikiran negatif dari teman-teman yang sudah tua. Puncaknya menjelang pemilihan umum legislatif hingga calon presiden tahun lalu.

Wisata religi ke Banten dan penyegaran ke Pantai Anyer yang diadakan remaja masjid pertengahan tahun 2014

Momen itu menurutku adalah pemilu terburuk yang pernah aku rasakan. Semua tindakan orang dinilai jelek oleh orang lain karena memunculkan kepentingan tertentu. Seperti tuduhan pada umumnya, orang ini mendekati remaja agar bisa mendapatkan kedudukan tertentu apakah itu di RW atau di pemerintahan.

Bukan karena fitnah ini yang membuat diriku pusing, tapi dengan pemilihan calon presiden sumber utamanya. Apa kepentingan para penuduh ini sampai tega menjelekkan seseorang? Apa mereka ini mendapat jabatan setelah presiden yang didukungnya terpilih? Mereka ini bukan siapa-siapa yang akan mendapat keuntungan tertentu dari kemenangan salah satu presiden. Kalaupun memang demikian, paling tidak seberapa dibandingkan dengan para petinggi partai.

Selesai pemilihan presiden, selesai juga tuduhan. Masalah selesai meski terkadang masih juga ada yang tidak terima dengan presiden terpilih ini. Tidak masalah buatku. Yang penting, inti masalahnya sudah selesai. Fitnah yang berkembang sudah selesai karena tuduhan mereka pada suatu orang baik yang pertama kuceritakan maupun yang kedua tidak benar adanya.

Satu tahun yang lalu paska pemilihan, ketua RW mencoba untuk memilih ketua karang taruna. Organisasi yang meredup hampir satu dekade. Acara puncak yang diselenggarakan organisasi ini dengan organisasi masjid di akhir tahun adalah mengajak seluruh remaja untuk melatih dasar kepemimpinan mereka di kawasan Puncak, Jawa Barat.

Panitia kegiatan latihan dasar kepemimpinan yang diadakan remaja masjid dan karang taruna akhir tahun 2014 di kawasan Puncak, Jawa Barat

Aku yang ditunjuk jadi ketua pelaksana harus pusing memikirkan keseluruhan acara. Inti masalah dari kegiatan ini adalah uang. Kalau barang itu tidak ada, kegiatan sebagus apapun tidak akan jalan. Terpikirlah buatku untuk mendatangi orang pertama yang waktu itu dituduh macam-macam.

Pertama kali mendatangi dia, aku malu. Malu karena sebelumnya tidak pernah konsultasi dengannya. Tapi ketika mau ada acara penting baru datang membawa masalah. Dia menyilakan aku dan ketua karang taruna masuk. Respon dia mendengar acara kami sangat baik. Dia berjanji membantu untuk melobi donatur agar mendapat uang. Bukan hanya itu, dia bahkan memberikan ide agar organisasi ini bisa terus hidup.

Hingga acara tiba dan menjelang keberangkatan ke Puncak, dia menyambangiku. Meski tidak ikut acara, dia memberi semangat dan berdoa agar acara sukses terlaksana tanpa ada hambatan.

Lain orang pertama, lain juga dengan orang yang kedua. Orang kedua yang juga dituduh ini sampai sekarang menjadi penasehat di saat organisasi masjid mengadakan acara. Bahkan dia juga mendukung kegiatan karang taruna yang bersifat positif. Hingga sampai saat ini bantuannya murni tanpa berharap apapun dari remaja.

Itulah kisah dua orang baru yang memiliki niat baik tapi dinilai salah oleh orang lain. Semua orang punya pikiran yang berbeda-beda. Dari pikiran yang berbeda itu pasti ada saja tanggapan baik ataupun buruk. Buatku, tidak penting anggapan buruk mereka karena aku yang menjalaninya.

Di media sosial ada kutipan yang lagi ngehits, "Kita hanya punya dua tangan. Oleh karena itu kita tidak akan pernah bisa menutup semua mulut orang yang menilai buruk. Yang bisa dilakukan hanya menutup kedua telinga kita."

Semua Gara-Gara 5 cm



Baru tiba di rumah setelah mencari berita, adikku langsung menanyakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. “Tas abang yang gede mana?”

“Ada di kamar. Buat apa?”

“Gua mau ke Bromo.”

Benar-benar dah itu adik. Beberapa bulan yang lalu memang dia mengatakan ingin liburan ke Gunung Bromo setelah mendapat cuti. Dia sudah bertekat. Meski nanti tidak boleh mengambil cuti, dia akan tetap pergi ke sana bagaimanapun caranya walaupun harus berbohong. Ternyata dia boleh mengambil libur. Beruntung lah dia.

Bukan hanya meminjam tas, dia juga ingin membawa kamera DSLR. Kamera profesional memang lebih peka terhadap cahaya dalam mengambil gambar. Berbeda dengan telepon pintar meski semahal apapun harganya kualitasnya masih kurang baik karena memang bukan dibuat untuk mengambil gambar.

Adikku berlibur selama empat hari. Katanya setelah dari Bromo mau jalan-jalan ke tempat wisata yang lain. Aku tidak mau bertanya lebih. Yang penting dia senang dan tidak membuat repot diriku.

Foto adik yang kuambil dari foto BBM

Sebenarnya adikku satu-satunya ini tidak begitu minat dengan menaiki gunung. Dugaanku sih karena film 5 cm. Entah dia yang terpengaruh film itu atau temannya. Tapi beberapa kali dia selalu tidak mau terlewat jika stasiun televisi swasta menayangkan itu.

Ya, film yang dirilis tahun 2012 lalu ini membawa efek begitu besar bagi remaja Indonesia. Gara-gara film yang berlatar belakang pemandangan alam, terutama menaiki gunung ini membuat anak jaman sekarang berganti hobi. Naik gunung.

Aku mengakui film ini sangat bagus. Karena menurutku film yang baik itu adalah yang berpengaruh bagi semua orang. Dan gara-gara 5 cm, banyak orang yang beralih ke naik gunung. Apakah itu pengaruh baik atau buruk, silakan masing-masing orang yang menilai.

Menurutku yang salah adalah orang-orang yang terpengaruh oleh film tapi tidak membawa nilai positif. Boleh saja mereka menikmati keindahan alam, tapi jangan sampai merusak yang sudah ada. Karena apa bedanya kita dengan seorang pembunuh kalau cuma bisa menghancurkan ekosistem atau menjadikan lebih buruk?

Aku juga sebenarnya termaksud orang yang beberapa kali menjejakkan kaki di puncak gunung. Tapi itu sudah dimulai sebelum film ini tayang. Dulu, tidak banyak orang yang suka dengan kegiatan seperti ini. Selain berbahaya juga meletihkan. Tapi entah kenapa teman-teman di rumah yang bisa dikatakan tidak tahu kegiatan ini jadi suka sekali mengajak pergi menjelajahi ciptaan Tuhan itu.

Setelah banyak yang ikut-ikutan seperti ini, muncul dalam benak agar tidak mau naik gunung lagi. Malas saja ketika melihat orang yang pergi bukan karena memang tujuan awal. Aku pernah berbincang dengan teman yang memang anak pecinta alam. Pada dasarnya mereka pergi ke gunung untuk menjaga alam dan merawatnya.

Tapi sekarang hal itu sudah berbeda. Banyak orang yang naik gunung karena ingin pamer di media sosial. Yang lebih menggelikan lagi mereka sudah menyiapkan beberapa lembar kertas dari kota dengan membuat tulisan seperti “dapat salam dari Gunung Semeru” atau “Eneng, Abang sudah nyampe puncak nih,” bahkan sampai memetik bunga bunga edelweis yang sebenarnya itu dilarang.

Ada pesan dari anak pecinta alam yang selalu aku hapal. “Jangan pernah tinggalkan apapun selain jejak. Jangan ambil apapun selain gambar. Jangan bunuh apapun selain waktu.” tiga kalimat yang sungguh sangat dalam. Dan kurasa anak kemarin sore yang ikut-ikutan naik gunung tidak tahu akan itu. Semua gara-gara 5 cm.


Akibat Pemahaman tentang Agama Kurang

Akibat Pemahaman tentang Agama Kurang
Sehari sebelum natal (25 Desember), aku mendapat pesan yang bisa dikatakan pesan “sampah” dari BBM. Aku katakan sampah karena dia hanya mengirimkan informasi dan langsung disebar kebanyak orang. Secara pribadi aku salah satu orang yang sangat tidak suka saat menerima pesan seperti itu. Rasanya sangat mengganggu.

Saat itu aku sedang berbicang dengan kawan di kampus. Tiba-tiba HP berdering tanda BBM masuk. Mengira ada pesan penting, aku segera membuka kunci pengaman. Saat melihat simbol toa di pesan tersebut, aku dapat menyimpulkan itu hanya pesan sampah. Kuputuskan untuk tidak membukanya dan kembali berbincang dengan kawanku.

Beberapa jam kemudian saat tidak ada yang harus dilakukan, aku membuka pesan itu. Pesannya sangat panjang dan intinya tentang mengucapkan natal kepada yang merayakannya. Kurang lebih isinya seperti ini.

“kamu tidak mengucapkan selamat natal kepadaku?”
“nggak ah. Aku takut kehilangan keyakinan”
“kan Cuma mengucapkan selamat natal. Saat idul fitri saja aku mengucapkan kepadamu.”
“yaudah itu hak kamu. Kalau seandainya kamu aku suruh sahadat mau?
“ya nggak lah.”
“emang kenapa? Kan Cuma mengucapkan saja.”
“aku tidak mau kehilangan keyakinanku.”
“seperti itulah aku saat kamu menyuruh aku untuk mengucapkan selamat natal”
Itulah perbincangan antara orang islam dan kristen. Kamu punya dua pilihan yaitu tetap membiarkan atau menyebarkannya ke lain. (setelah kalimat ini tertulis ayat al-quran, tapi aku lupa suratnya. Intinya agar menyebarkan kebaikan kepada orang lain)

Setelah membaca itu, muncul pikiran untuk membalas pesan. Aku ingin membalasnya dengan menulis tidak apa-apa untuk mengucapkan selamat natal kepada orang yang merayakannya. Mataku terpejam beberapa menit untuk memutuskan hal tersebut. Akhirnya aku pilih untuk menghapus pesan tersebut dan tidak membalasnya dengan berbagai alasan.

Rasa jengkel muncul setelah selesai membaca pesan itu. Aku merenung lalu berkata sendiri, “Seperti ini kondisi orang Indonesia yang pengetahuan agamanya kurang tapi berani berkoar untuk menyebarkan agamanya meski ilmu yang dimiliki masih minim.”

Ada hal yang bisa diperdebatkan dari pesan sampah temanku itu. Pertama konteks mengucapkan natal dengan bersahadat itu tidak seimbang. Hal itu karena sarat orang menjadi Islam adalah bersahadat. Sedangkan untuk menjadi seorang Kristen, bukanlah mengucapkan selamat natal, tapi proses pembabtisan.

Oleh karena itu tidak cocok saat orang Islam disuruh mengucapkan selamat natal dan orang Kristem disuruh mengucapkan dua kalimat sahadat. Yang aku pahami, natal merupakan kelahiran nabi Isa as. Sama halnya dengan beberapa umat Islam yang merayakan kelahiran nabi Muhammad saw meski beberapa orang tidak merayakannya.


Dari pemikiran seperti itu, maka sah saja jika orang Islam mengucapkan selamat natal ke orang yang merayakan, asalkan tidak menggoyah keimanan mereka. Semoga saja dengan menulis ini keyakinanku tidak berubah, apalagi sampai hilang sehingga tidak memiliki keyakinan. Aamiin...

Dunia Jaffry


Aku Jaffry Prabu Prakoso, teman kecil sampai SMA biasa manggil jefri (baca: jepri). Berbeda dengan teman organisasi di kuliah, mereka  menggunakan namaku sesuai dengan akte kelahiran, yaitu jafri (baca: japri). Pengucapan seperti itu karena orang Indonesia sulit sekali menyebutkan kata ‘f’, makanya huruf ‘f’ terkadang suka diganti dengan ‘p’. Sudah tiga tahun aku kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, jurusan jurnalistik.
Aku tidak tahu kenapa bisa memilih jurusan ini. Saat sekolah aku berpendirian labil memilih universitas. tapi biarlah yang penting aku kuliah dan jangan pernah menyesal dengan apa yang sudah aku pilih. Karena kalau kita tidak menikmati apa yang sudah berikan, Tuhan akan kapok untuk memberikan kita nikmat lagi.
            Seperti biasa, di awal kuliah aku masih belum punya teman yang bisa kupercayakan sepenuhnya. Itulah aku. Mencari teman yang benar-benar bisa dipercaya memang sulit. Tidak semudah memesan menu makanan di warung nasi.
Mungkin rasa trauma karena dikhianati yang membuat aku seperti ini. Tapi sekadar untuk tahu siapa namanya tak masalah bagiku, karena aku juga bukan tipe orang yang tidak mau berteman. Tapi masalah terbesarku, aku sangat sulit menghapal nama orang.
Di hari perkenalan dunia kampus pun sama. Saat orang disebelahku asik berkenalan dengan teman barunya, aku hanya diam dan asik dengan duniaku saja. Diam, pandangan kosong, pikiran jauh bermain di tempat yang tak jelas juntrungannya.
Bagiku, hal seperti itu sangat mengasikkan. Daripada aku bermuka dua, menunjukkan perilaku baik dan berlagak akrab dengan teman baru. Tapi setiap orang memiliki sikap yang berbeda-beda. Mungkin mereka memang mudah bergaul, tidak sepertiku. Terlebih tidak ada teman sekolahku yang masuk di jurusan ini, membuatku sulit berkenalan dengan teman baru.
Di semester awal kuliah aku masih belum beradaptasi sepenuhnya dengan dunia kampus. Terlebih lagi mata kuliah yang diberikan tentang pelajaran agama semua. Aku tercengang. Mana mata kuliah tentang jurnalistik? Aku baru menerima pelajaran jurnalistik setahun kemudian.
Pelajaran jurnalistik yang diberikan kuliah, tak sebanding dengan apa yang aku dapatkan di organisasi. Bukan bermaksud membanggakan satu pihak, tapi benar kata orang. Kalau kuliah hanya mengharapkan apa yang dosen berikan, maka ilmu yang kita dapatkan tidak akan maksimal. Dan kita tidak akan bisa menemukan jati diri kita hanya dengan kuliah di kelas.
Aku tak tahu kenapa banyak orang mengharapkan nilai yang tinggi. Ini semua karena sistem indonesia yang memang kacau. Dari dunia kerja pun mereka mencari para pekerjanya dengan nilai yang dikriteriakan. Jauh dari itu semua, mereka membatasi para pekerjanya dengan standar pendidikan sesuai dengan standar yang ada. Sebenarnya yang mereka inginkan itu pendidikan dan nilai para pekerjanya atau keahlian yang mereka miliki?
Seniorku menceritakan tentang kakeknya. Saat Indonesia dijajah, para pejuang dapat berbahasa lebih dari dua bahasa asing, walaupun mereka tidak berpendidikan. Kita lihat jaman sekarang. Sejak Sekolah Dasar kita dicecer dengan bahasa inggris, tapi apakah kita dapat menggunakan bahasa internasional itu secara fasih? Apa sebenarnya yang salah dengan sistem pendidikan ini? Kenapa aku terdampar di dunia yang kacau seperti ini?
Semua itu berdampak jelas di kuliah. Bagus atau tidaknya mahasiswa dalam memahami pelajaran kuliah diukur dengan nilai yang diberikan dosen. Padahal nilai yang dosen berikan itu adalah subjektif. Kalau dosen itu suka dengan seseorang pasti mahasiswa itu mendapat nilai yang bagus. Dan sebaliknya. Jika dosen tidak suka dengan seorang mahasiswa, pasti ia mendapat nilai yang tidak memuaskan.
Bagiku nilai bukan segalanya. Walaupun aku memiliki nilai yang standar, tapi aku tidak menyesalinya. Yang aku fokuskan adalah apa yang kudapat dengan kegiatan yang positif. Karena aku percaya, dengan kegiatan yang positif akan menciptakan hasil yang positif.