Main Salju di India, Old Manali Hujan Salju Sepanjang Waktu

Bacaan sebelumnya klik di sini

Salju turun lebat
Aku terbangun pukul 07.00 dan bersiap melanjutkan perjalanan mengelilingi Old Mandala. Tirai jendela kubuka. Kekecewaan didapat. Cuaca semakin buruk.

Salju turun tidak mereda sejak semalam. Doaku untuk merasakan salju yang turun dari langit benar-benar diijabah. Bahkan berkali lipat. Entah ini adalah berkah atau bukan. Tapi seharusnya disyukuri karena sudah selamat sehat wal afiat.

Setelah mendapat beberapa informasi dari warga sekitar, Rohtang Pass sedang ditutup. Aku sedang salah tanggal karena beberapa waktu lalu di sana longsor. Kendaraan pun tak bisa lewat. Diprediksi tiga bulan lagi selesai diperbaiki.

Satu tempat yang menjadi tujuan utama batal. Solang Valley juga sepertinya tidak bisa hari ini. Kami disarankan tidak ke sana karena cuaca yang sedang buruk.

Akhirnya kami kembali jalan-jalan di tempat yang tidak jauh dari sebelumnya. Ada beberapa lokasi yang belum dijamah. Tapi kami butuh sarapan sebelum berangkat.

Prata dengan saus khas India
Lagi-lagi bukan nasi. Kami makan prata. Kali ini dengan saus sambal khas India. Rasanya sangat tidak cocok di lidah. Padahal aku berharap ini adalah rasa yang diterima otak.

Ternyata tidak. Rasanya asam. Bahkan tidak ada pedasnya. Persis seperti yogurt. Ya Tuhan! Aku sangat tidak kuat dengan rasa masakan di sini. Sekarang Aku sangat rindu dengan sayur asam, ikan teri, atau rendang.

India sangat berani memasukkan bumbu di masakannya. Tapi bukan penyedap, melainkan rempah. Dan yang paling tidak boleh terlewatkan adalah bawang mentah yang sudah diiris.

Aku kini trauma dengan dua bumbu masakan itu. Bahkan hingga sekarang. Beruntung Aku membawa sambal dalam kemasan. Inilah makanan rahasia yang sempat Aku singgung sebelumnya.

Sambal sungguh menjadi penyelamat. Seluruh makanan yang Aku pesan kini harus ditemani dengan sambal. Memang tidak seenak dengan sambal buatan sendiri. Tapi setidaknya cocok di lidah.

Sebenarnya Aku sempat membawa saus sambal. Tapi karena masih amatir, Aku membawa dalam bentuk botol. Dan itu dilarang dibawa ke pesawat. Akhirnya ditinggal di Tangerang.

Setelah makan, kami ke alun-alun lagi. Meski hujan salju deras, masih banyak pelancong di sini. Aku keliling sebentar karena mau membeli oleh-oleh. Hari ini adalah terakhir di Old Manali. Besok sudah harus keluar hotel dan beranjak ke Agra pada sore hari.

Sudah tahu apa yang akan dibeli, Aku beranjak ke tempat wisata yang akan dituju. Seperti biasa hanya ke candi. Tapi bukan candinya, tapi perjalanan ke sana. Karena suasana itu yang kami cari.

Aku menerabas hujan salju yang sangat deras. Pandangan sangat terbatas. Beruntung angin tidak kencang. Meski begitu, tetap terasa di tulang. Sarung tangan yang Aku bawa terlalu tipis. Beruntung motor sewaan kami mampu menerabas cuaca yang sangat dingin ini.

Perjalanan 15 menit terasa sangat lama karena cuaca yang buruk. Sampai di lokasi tidak ada apa-apa. Cuma candi tok. Aku dan Ali memanfaatkan salju yang sudah menebal saja. Aku lempar ke wajah agar terlihat dramatis. Fotonya ada di Instagram.

Kami melihat sebuah Gubuk. Terlihat beberapa orang mengelilingi sesuatu. Ternyata mereka sedang menghangatkan diri dengan kayu bakar.

Kudekati mereka yang terlihat sedang memutar sebatang rokok untuk berdamai-ramai. Aku mencoba mengakrabkan diri agar bisa masuk dalam satu lingkaran.

Beruntung mereka ramah. Aku tawari rokok dari Indonesia. Salah satu di antaranya mencium sebatang dari dalam bungkusan. “Baunya enak,” katanya. “Ya, ini cengkeh asli,” Aku menimpali sambil membanggakan rokok itu.

Orang yang mencium rokok itu lalu menawarkan rokok lintingan. “Mau ganja?” langsung kutolak. Sepertinya sih enak. Tapi Aku tidak tertarik.

Aku mengenakan peci khas India
Pukul 14.00 kami beranjak lagi ke alun-alun untuk membeli barang yang sudah dilirik sebelumnya. Aku belanja beberapa kain khas India. Terutama peci.

Pedagang di sini kebanyakan beragama Islam. Saat tahu satu agama, Aku dan Ali mendapat pelayanan yang ramah. Dan potongan harga tentunya. Begitu pula ketika membeli tiket bus.

Aku mau memastikan kepada penjual bahwa bus yang kami gunakan bagus. Kami tidak mau tertipu lagi. Tapi Aku yakin kendaraan kami layak karena dia terlihat ramah. Aku juga meminta nomor telepon jaga-jaga terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Maklum, dia tidak memberi tahu nomor plat bus.

Perjalanan hari ini memang tidak seseru dan seatraktif kemarin. Cuaca buruk menjadi penyebabnya. Malam hari pun hanya jalan di depan hotel tidak mengenakan jaket.

Aku mencoba mengetes apakah sudah layak menjadi warga sekitar. Ternyata cocok karena tidak biasa saja meski kalau angin bertiup terasa tertusuk.

Kami tidur agar cepat karena cukup lelah menerabas hujan salju. Ali tidak salah menyewa kamar karena cukup hangat. Dengan begitu kami bisa istirahat dengan maksimal. Aku berdoa semoga besok cerah. Amiinn

Bersambung…

Main Salju di India; Aklimatisasi pada Suhu Minus

Bacaan sebelumnya klik di sini


Sebelum jam 18.00 waktu setempat Aku dan Ali sudah sampai di New Stand Bus. Sekitar jam 20.00 bus kami jalan ke Old Manali. Saat jamnya tiba, kami mengecek tempat kendaraan yang akan dinaiki menunggu. Tapi rasanya bukan bus ini.

Ketika memesan bus, Aku sudah bilang sama penjaga loket beli eksekutif. Dia mengiyakan. Ditunjukkan foto pada selebaran bus. Oke diputuskan beli yang itu. Ternyata busnya jelek.

Ya, tidak jelek banget sih. Tapi tidak seperti rupa yang di selebaran. Yang ditunjukkannya seperti bus bandara di Malaysia. Bentuknya memang mirip, tapi kondisinya tidak.

Lalu Aku memastikan pada pengatur bus. Dia bilang memang itu bentuknya. Aku masih tidak percaya dan meyakini itu adalah bus sebelumnya. Beberapa menit kemudian supirnya datang. Dia bilang ini bus yang kami pesan. Baiklah kena tipu. Sial!

Perjalanan ke Old Manali memakan waktu sekitar 9 jam. Seperti biasa Aku langsung tidur. Beberapa kali terbangun karena kedinginan dan kurang nyaman karena istirahat sambil duduk.

Sekitar jam 06.00 kami tiba di terminal Old Manali. Akan tetapi hari masih gelap meski sudah pagi. Di sisi lain udara sangat dingin. Rasanya menembus sampai tulang. Aku buru-buru mengenakan jaket.

Aku nengecek suhu dari telepon genggam. Di bawah 0 derajat. Bbrrrrrr. Cairan di hidung terus keluar dan tak berhenti. Kubaluti leher sampai hidung dengan syal. Selain menghalau angin, ini juga biar tak terlihat ingus oleh orang sekitar.

Dari terminal ke hotel sebenarnya dekat. Sekitar 3 Km. Karena kondisi tidak memungkinkan, kami memutuskan mengunakan taksi. Selain gelap, udaranya membuat lemas. Aku lupa ongkos taksi. Sekitar Rs300 atau Rp60.000 (Rs1=Rp200).

Di dalam taksi sangat hangat. Benar-benar nikmat. Rasanya mau lama-lama dan tidak mau keluar. Aku tidak bisa melihat kondisi sekitar karena masih gelap. Tak lebih dari 10 menit kami tiba di hotel. Buru-buru Aku ingin segera masuk kamar, memanaskan tubuh, dan tidur.

Kudorong pintu hotel. Keras, tidak mau terbuka. Ternyata masih tutup. Terus bagaimana. Aku tidak mungkin berdiri di depan hotel dengan cuaca sedingin ini. Coba kutengok hotel tetangga. Semuanya gelap dan tertutup rapat. Dari sinilah muncul kesimpulan kehidupan baru ada jam 08.00.

Langit mulai terang. Tapi tidak kulihat matahari. Sepertinya masih tertutup oleh bukit. Atap rumah dan hotel tertutup salju meski tidak terlalu tebal. Beberapa kali kudengar lelehan salju runtuh menghantam tanah.

Sembari memandangi lingkungan sekitar di teras hotel, Aku mencari tempat agar bisa duduk. Setidaknya tidak di tempat ini karena angin sangat leluasa menghantam tubuh. Plus, tubuh masih lemas karena kurang tidur.

Ternyata ada ruang bawah tanah. Itu tempat parkir mobil. Aku turun dan mencari tempat agar bisa duduk. Ketemu! Tidak begitu bagus memang. Tapi bisa selonjoran sambil menyandarkan punggung.

Tempatnya sangat berdebu. Sepertinya tidak pernah disapu. Masa bodoh. Yang penting bisa bersantai sebentar. Aku ajak Ali. Tapi dia tidak mau. Dia memilih berdiri di luar sambil merokok dan kedinginan. Ya sudah. Terserah.

Aku buka selimut darurat. Bahannya alumunium dan tipis. Aku beli di peralatan gunung. Ini bermanfaat untuk orang kena hipotermia. Kuselimuti diri dengan itu yang berguna menghalau angin dan sebagai alas duduk.

Akhirnya jam 08.00 juga. Pintu hotel dibuka. Kami segera masuk dan melakukan konfirmasi pembayaran. Jati diri mulai paspor, visa, hingga nomor telepon diminta. Proses selesai dan kami diantar ke kamar.

Kamarnya standar. Tidak bagus, juga tidak jelek. Cukup luas tapi tidak ada televisi. Siapa juga yang butuh itu. Kan Aku sedang liburan. Yang penting ada pengahat ruangan dan air panas. Itu yang paling penting.

Dengan harga Rp225.000 permalam, hotel ini lumayan bisa dijadikan rekomendasi. Rata-rata memang harganya sekitar segitu. Kalian bisa cek di aplikasi atau situ penyedia sewa hotel.

Selesai menunjukkan kamar petugas hotel tidak langsung pulang. Dia menunggu. Aku tahu dia berharap ada tip. Di sini, petugas pemberi saja seperti dia dan rumah makan selalu meminta kebaikan.

Sudah menjadi kebiasaan sepertinya. Ya, kalau tidak dikasih juga tidak apa-apa. Tapi kan tidak masalah memberi sedikit rezeki. Setelah itu kami rebahan di kasur. Enak sekali. Tiga hari Aku tidak merasakan kasur. Tiga hari pula tidak mandi. Tapi tidak bau karena keringat tidak keluar. Maklum, cuaca sangat dingin.

Setelah membersihkan badan mata rasanya berat sekali. Tapi Aku tidak mau tidur. Di sini kan mau jalan-jalan. Tapi apa daya. Kasur ini memiliki magnet yang sangat kuat. Kurang dari lima menit kami tertidur. Bukti perjalanan menyenangkan ini menguras tenaga.

***

Tak terasa Aku tertidur selama tiga jam. Aku melihat ke samping tempat tidur Ali. Dia juga terlihat sama. Sangat lelah. Aku melihat waktu di telepon genggam. Sekitar jam 12.00. Aku bangunkan Ali dan segera bergegas menyusun rencana.

Kami masih belum tahu akan ke mana. Yang jelas adalah Rohtang Pass dan Solang Valley. Itu tempat yang terkenal di Old Manali. Sisanya meraba dengan mengecek di internet atau bertanya pada warga sekitar.

Tapi kami lapar. Maklum, belum sarapan. Lalu kami ke lobi bertanya pada penjaga hotel tempat penyewaan motor. Rental yang ada di internet mengharuskan ada semacam SIM internasional. Mana punya kami.

Beruntung penjaga hotel punya kenalan. Dia bilang Rs1.200 (Rp240.000). Aku sempat berpikir ulang mengenakan jasanya karena cukup mahal. Tapi iya sudah tidak masalah. Daripada kami harus mencari dan belum tentu juga dapat juga dengan persyaratannya yang ribet. Ini lebih ringkas. Lagipula itu harga normal.

Motornya bukan sembarang motor. Royal Enfield. Di Jakarta harga sewanya bisa sampai Rp1 juta. Sepadan lah. Petugas bilang penyewa akan datang dengan motor sekitar 10 menit lagi. Sembari menunggu, kami mencari makan.

Di dua tempat yang Aku datangi (Old Manali dan Shimla), kalau pagi tidak ada yang jualan nasi. Semua pasti berbahan tepung. Ya,itu prata atau roti cane. Tapi ditemani tidak dengan susu dan keju. Biasanya dengan saus khas India yang rasanya asal atau kari yang di dalamnya ada kentang atau daging.

Selesai makan kami ke hotel. Motornya sudah ada di halaman. Aku yang bawa. Ali tidak bisa mengendarai motor kopling. Aku pun belum terbiasa dengan motor dengan CC besar. Yang pasti berat. Tapi mengasikkan karena bikin tambah gagah.

Lalu kami ke mana? Tidak tahu. Kami terdiam lalu tertawa karena sangat bodoh pergi tanpa rencana. “Ya sudah kita ke kiri saja, Kong,” kataku berinisiatif tanpa tahu ke mana. Yang penting jalan dulu.

Ternyata tempat di sini adalah penginapan semua. Kiri kanan hotel dengan jalanan menanjak terjal dan tidak rata. Akhirnya Aku berhenti. Yakin tidak ada tempat rekreasi jika diteruskan. Tapi abadikan momen dulu. Pemandangannya bagus. (bisa cek di Instagram ya karena sudah diunggah).

Aku minta bantuan Google. “Oke Google, tempat rekreasi terdekat.” Dia menunjukkan arah tempat kami turun dari bus. Ternyata di situ adalah alun-alun. Sama seperti di Shimla. Banyak pelancong dan yang pasti oleh-oleh.

Kami belum memutuskan belanja karena mau muter-muter. Siang hari lingkungan sekitar bisa dilihat. Ternyata jalan menuju lokasi cukup buruk. Sepertinya habis longsor. Kiri tebing kanan sungai. Sementara itu jalan licin karena salju mulai mencair.

Meski sudah meleleh, suhu masih dingin. Cuaca rata-rata adalah 0 derajat. Sangat dingin. Padahal cuaca sedang cerah dan tidak turun salju. Di sisi lain Aku mau merasakannya yang benar-benar turun dari langit.

Saat berkendara, tangan seperti tertusuk-tusuk. Semenit diterpa angin Old Manali cukup membuat mati rasa. Aku tidak bisa merasakan jemari.

Menarik gas dan menekan kopling dengan perasaan saja. Belum lagi muka tanpa masker. Keadaan diperparah dengan tanjakan yang teraspal bolong. Licin. Ali bahkan harus turun biar tidak selip.

Jalan yang cukup curam dengan kondisi kurang bagus

Akhirnya sampai di alun-alun. Di sini tidak sampai sejam. Setelah itu pergi ke lokasi kedua seperti disarankan Google. Cuma candi dan vihara. Tempat wisata di sini hanya itu saja.

Di tempat pertama sudah ramai orang. Mereka bermain salju. Aku pun ikutan. Saking noraknya, itu Aku makan seperti menirukan kartun saat masih kecil. Inilah salah satu mimpi dulu. Mau tahu rasanya? Seperti bunga es. Ya, ini kan memang es.

Mau ke lokasi kedua, Aku melihat ada hewan khas India. Namanya Yak. Seperti lembu besar dengan buku yang cukup tebal. Bahkan sampai menutupi mata. Aku mau foto tapi ternyata bayar. Ada penjaga yang bilang Rs500. Waaw tahu banget duit. Aku langsung urungkan niat mengabadikan momen bersama.

Di gerbang pintu masuk Aku penasaran. Lalu bertanya pada penyedia jasa lain. Ini lebih murah 10 kali lipat. Rs50. Foto dengan baju khas tambah Rs50. Jadi total Rs100.

Foto bareng Yak

Lalu kami bergegas ke tempat kedua. Tidak terlalu istimewa sih karena hanya vihara. Muter-muter sebentar lalu ke alun-alun lagi untuk cari makan. Entah makan siang atau makan sore. Tapi kami lapar karena belum kena nasi. Cari lokasi yang sekiranya menjual itu.

Pas pulang salju mulai turun dengan deras. Bahagia karena yang Aku inginkan nyata. Aku hadapkan wajah ke atas merasakan seperti apa saat setiap butiran mengenai kulit. Saat itu Aku merasa bersyukur karena sudah diberi hidup yang sehat dan juga ke India.

Tapi penderitaan kembali datang. Hawa makin dingin. Beruntung tak ada angin. Tangan kembali mati rasa. Meski begitu Aku senang dan menikmati dinginnya India.

Sebelum jam 18.00 kami sampai lagi di hotel. Menghangatkan lagi tubuh dan menyusun rencana selanjutnya untuk besok. Solang Valley dan Rohtang Pass tunggu Aku!

Bersambung...

Main Salju di India; Cari Penukaran Uang, Kartu Telepon, dan Kangen Matahari

Bacaan sebelumnya klik di sini

Salam cinta dari kami yang bersiap menjelajah India

Keluar dari stasiun Aku dan Ali kedinginan. Hembusan angin pertama yang mengusap kulit langsung membuat tubuh gemetar. Sepertinya cuaca 10 derajat. Kami langsung mengeluarkan jaket di tas.

Beberapa orang sekitar juga tampak mengenakannya. Berarti bukan kami saja yang kedinginan karena belum terbiasa dengan cuaca India. Bukan hanya jaket, Aku juga mengenakan celana dobel. Anginnya menusuk parah. Padahal di sini tidak bersalju. Aku mulai cemas saat nanti di tujuan utama apakah bisa bertahan atau tidak.

Setelah melapisi pakaian, kami segera membeli tiket menuju Shimla. Seperti yang Aku tulis pada tulisan sebelumnya, kami naik dari Inter State Bus Station (ISBT), Khasmere Gate.

Tidak ada yang bisa menggunakan Bahasa Hindi di antara kami. Beruntung ini di kota dan pada paham Bahasa Inggris. Itulah yang kami andalkan.

Bus menuju Shimla juga ada. Jadi liburan masih sesuai rencana awal. Tiket perorang Rs919 atau Rp183.800 (Rs1+Rp200). Busnya petugas bilang eksekutif. Saat menaikinya seperti bus yang aku naiki di Malaysia meski ini lebih jelek. Tapi lumayan nyaman.

Di Jakarta Ali ide untuk naik bus layaknya yang ada di televisi. Maksudnya adalah bus seperti metro mini dan penumpangnya padat. Kalau pernah naik bus 510 Ciputat-Kampung Rambutan, ya seperti itu. Tentu aku tidak mau. Ali pun juga. Itu cuma ide buat lelucon.

Masalahnya adalah perjalanan ini panjang, yaitu 368 Km. Atau seperti dari Serpong ke Pemalang. Patokannya Serpong karena dari rumahku :). Lagipula kami harus tidur di bus.

Maklum, perjalanan ini semi irit. Jadi, selama ada yang bisa ditekan, ya manfaatkan saja. Akan tetapi nanti kami akan menaiki bus yang dimaksud Ali itu. Aku juga mau merasakannya kok.

Setelah dapat tiket, kami makan malam. Menunya adalah makanan dari Malaysia yang aku beli, yaitu nasi lemak. Karena Fajar tidak jadi ikut, Aku menyikat punya dia. Sementara Ali menyantap yang aku belikan untuknya siang hari. Mungkin karena terlalu memikirkan Fajar dia jadi tidak nafsu makan.

Oh iya Aku lupa, di pesawat kan juga dapat makan. Tapi menunya kurang sreg. Di udara kami diberi Nasi Briyani yang merupakan masakan khas India. Rempahnya terlalu terasa. Aku kurang suka sehingga ada keinginan untuk makan lagi di malam hari.

Bus yang kami naiki datang sekitar jam 22.00 waktu India. Di perjalanan Aku langsung tidur. Sungguh lelah rasanya. Maklum, dari Jakarta Aku tidur sebentar. Saat transit di Malaysia, Aku jalan-jalan. Di pesawat juga tidak bisa tidur karena maraton film.

Ternyata memang keputusan Aku tepat. Walaupun sangat dingin, Aku masih bisa bermimpi. Itu bukti tidur nyenyak. Sementara Ali sebaliknya. Selain udara dingin, dia cemas karena jalannya sangat mengerikan. Aku bersyukur tidak melihatnya.

Tapi itu tidak saat pulang. Cerita itu akan Aku buat di bagian lain. Biar kalian penasaran. Akan tetapi yang Aku salut pengemudi di sini taat jam kerja. Setiap tiga atau empat jam sekali mereka istirahat. Tujuannya mengembalikan fokus dan tidak mengantuk.

Shimla New Stand Bus

Perjalanan kami sekitar 9 jam. Jam 08.00 waktu India kami tiba di Shimla New Bus Stand. Tidak lupa kami Salat Subuh. Tapi di sini tidak ada masjid. Cuaca juga sangat dingin. Aku memilih tayamum dan beribadah sambil duduk. Terminal di sini sangat tidak terawat. Meski ada kata “new”, lantainya berdebu. Seperti mall hasil penjarahan tahun 1998 dulu.

Ibadah selesai. Untuk menghilangkan dingin dan terbiasa dengan cuaca, kami memesan teh susu atau dalam bahasa Hindi, cai. Cuma itu bahasa yang aku tahu selain dua, yaitu do. Karena kami hanya berdua, jadi setiap beli apapun, Aku selalu bilang do.

Aku bisa tahu Bahasa Hindi-nya teh, saat sedang menikmati suasana di Shimla ada penjaja minuman meneriakkan, “Cai...cai...cai...”

Lalu Aku melucu ke Ali. “Kong (sapaan Aku ke Ali), ada pedagang asli Sunda. Dia bilang cai.” Kalau tidak ada yang tahu, cai dalam Bahasa Sunda artinya air. Kebetulan bapak itu juga membawa termos dan gelas pastik. Cocoklogi yang Aku gunakan pas lah.

Sebenarnya lawakan itu juga sebagai rasa penasaran. Sambil melirik agar tidak terlihat ingin beli, Aku simpulkan itu artinya teh. Nah, di sini tehnya selalu dicampur susu. Ini adalah salah satu jajanan yang Aku suka.

Harganya juga murah. Antara Rs10—Rs20 atau Rp2.000—Rp4.000 tergantung lokasi. Kalau di tempat makan pasti lebih mahal. Di sini tidak ada kopi untuk warung biasa. Sepertinya cai adalah minuman khas India. Ini cuma kesimpulan setelah beberapa tempat Aku kunjungi.

Badan sudah hangat, hari juga agak siang, dan kehidupan mulai tampak (dua tempat yang Aku kunjungi di utara India, warung hingga orang-orang baru beraktivitas pada pukul 08.00. Aku tidak tahu kenapa, mungkin karena cuaca dingin. Karena saat di tengah-tengah India atau pusat kota, Subuh saja sudah ramai). Saatnya untuk bergerak dan memulai liburan yang sebenarnya.

Aku bertanya pada anak muda. Pertimbangannya pasti dia mengerti Bahasa Inggris dan tahu informasi apa yang kami butuhkan. Kami ingin bertanya di mana tempat wisata atau rekreasi. Dugaan Aku tepat. Dia tahu segalanya. Selain itu orangnya ramah.

Aku bersyukur bertemu dengan orang-orang baik di sini walaupun ada juga yang memanfaatkan kami meski tidak banyak. Intinya cermat dan jangan malu bertanya. Tuhan memberi jalan untuk kami yang sedang melakukan penyegaran dari ingar bingar kehidungan di Jakarta. Apalagi Aku saat itu sedang bertugas mengawal kampanye pemilu. Eneg coy!

Dari New Stand Bus, kami disarankan ke Old Stand Bus. Dari situ kami bisa menikmati Shimla. Orang itu menyarankan kami ke Mall Road. Sepertinya daerah ini memang tujuan pelancong. Karena di siang hari sangat ramai. Baik orang pacaran, pekerja, pedagang, hingga pelajar.

Di sinilah kami menaiki bus yang diinginkan. Desak-desakan. Sudah biasa sih karena di Jakarta juga ada. Tapi ini kondisinya kurang layak, apalagi kondisi jalan perbukitan.

Ternyata kami berbarengan dengan anak sekolah. Sungguh wanita di India lucu-lucu. Manis dan enak dipandang. Wanginya khas India.

Sepertinya ini hari pertama mereka sekolah. Karena orang tua mengantarkan sampai bus benar-benar berangkat. Aku melihat tatapan para ibu kepada anak penuh harapan. Mereka seperti berdoa agar keturunannya bisa hidup lebih baik. Saat supir melaju kendaraannya, sang anak melambaikan tangan. Momen itu membuat Aku terharu.

Biaya bus Rs18 (Rp3.600). murah karena dekat. Kurang dari 15 menit tiba di lokasi. Tapi dari sini kami harus jalan. Jalannya menanjak.

Karena hilang arah, Aku bertanya pada anak sekolah. Anak SD sudah bisa Bahasa Inggris walaupun tidak begitu lancar. Tapi lumayan membantu untuk menanya arah. Aku kemudian mencoba akrab. Tapi sepertinya mereka malu. Entah seperti itu atau takut. Maklum Aku bukan warga sekitar.

Tak masalah. Karena saat Aku salah arah, anak itu mengingatkan. Akhirnya Aku dan Ali di belakang anak itu yang bersama teman-temannya.

Perjalanan menuju Mall Road

Karena jalannya menanjak, Ali terengah-engah. Tidak kuat membawa badannya yang membengkak. Aku melihat beberapa dari mereka tersenyum melihat Ali yang kelelahan. Tapi mereka menunggu.

Sampai di Mall Road, Aku seperti anak kecil yang baru tahu dunia luar. Sangat antusias berkeliling dan melihat keadaan sekitar. Ujung ke ujung jalan kami jelajahi. Lokasi ini tidak ada kendaraan. Titik terakhir hanya di Old Stand Bus. Jadi semuanya hanya ditempuh dengan jalan kaki.

Sembari keliling Mall Road, kami makan. Ya tidak makan besar tapi camilan. Menikmati jajanan khas lokal. Enak-enak karena kebanyakan berbahan dasar roti. Pas sekali dengan Aku yang menyukai itu.

Mencoba berbaur dengan anak sekolah

Jalan-jalan dan mengabadikan gambar sudah didapat. Agak siang kami mulai ke tujuan utama, yaitu menukar uang dan membeli kartu telepon. Kami tidak membawa persediaan banyak dari Jakarta. Dua penukaran di Jakarta tidak menyediakan rupe. Akhirnya kami membeli dolar untuk diganti jadi mata uang India saat sudah sampai di Negeri Bollywood.

Jika dihitung-hitung, kami sudah tidak bisa lagi jajan kalau tidak menukar uang. Repot kalau sudah begini. Bagaimanapun caranya harus bisa mendapat rupe.

Nyatanya memang mencari bank yang bisa menukar uang hanya ada satu di Mall Road. Kami bertanya pada satu petugas bank, dia memberi jalan tidak jelas dan akurat. Lagi-lagi Aku kualat karena sering membuat orang tersesat.

Akhirnya setelah berputar di tempat yang sama dan pegal juga kesal karena tidak ketemu, bank pusat di Mall Road ketemu. Semua dolar yang kami bawa ditukar. Aku lupa bawa berapa, sepertinya Rp2,5 juta. Ali juga tidak lebih dari segitu.

Kami bisa bernafas dan foya-foya lagi. Selanjutnya adalah membeli kartu telepon. Ini penting karena kebutuhan sosial. Untuk riya di media sosial tentunya.

Mendapatkan kartu perdana di India ternyata tidak mudah. Harus ada orang lokal sebagai penjamin. Setelah sedikit berbohong pada petugas bahwa kami punya kenalan, akhirnya didapat juga itu kartu. Harganya setengah dari yang dijual di bandara, yaitu Rs350 atau Rp70.000

Ali memang ada kenalan. Teman yang sangat baru di media sosial. Dari grup backpacker. Ternyata ikut seperti itu berguna juga. Tadinya Ali janjian ingin bertemu. Aku juga mau tahu seperti apa. Tapi ternyata tidak jadi karena lokasi jauh. Tidak apa. Yang penting sebentar lagi bisa mendapat sinyal kehidupan.

Tidak terasa hari sudah siang. Tapi cuaca tetap saja dingin. Kami memutuskan mencari matahari untuk berjemur. Sungguh belum terbiasa dengan keadaan seperti ini. Hidung juga mulai keluar ingus. Beruntung Ali membawa madu. Ini sangat manjur menjaga fisik.

Setiap pagi dan malam aku meminumnya dengan tolak angin. Salah satu bawaan dari Jakarta yang sangat membantu. Ada satu lagi. Tapi nanti ya di tulisan selanjutnya.

Akhirnya dapat juga paparan sinar matahari. Tidak pernah Aku sekangen dan senikmat ini. Ternyata memang kita tidak akan pernah bisa menghitung nikmat Tuhan.

Saat berjemur ada seorang bapak mengajak bicara. Aku ladeni. Dia ternyata seorang pekerja yang menjual barang di salah satu toko. Dan Mall Road seperti yang Aku bilang sebelumnya adalah tempat pelancong. Mungkin seperti Kota Tua, Jakarta.

Kami tidak lama-lama di Mall Road. Lokasi ini memang hanya menjadi tempat singgah sekaligus dimanfaatkan jadi salah satu destinasi walaupun Ali tidak tahu ke mana. Ya, kami dadakan seperti tahu bulat. Tapi itulah yang menjadikan perjalanan ini seru juga berharga.

Sore hari kami kembali ke New Stand Bus. Pagi tadi sebelum ke Mall Road tiket sudah dibeli. Harganya Rs640 (Rp128.000). tujuan selanjutnya adalah Old Manali

Bersambung...

Main Salju Murah di India; Injakkan Kaki di Negeri Bollywood

Bacaan sebelumnya klik di sini

Apa yah kira-kira yang Ali sebut kabar buruk? Aku khawatir dia tidak jadi ikut. Apakah itu karena tiket bermasalah, gagal lolos di imigrasi atau terjadi masalah dengan istrinya.

Tapi saat Aku tanya sedang di mana, dia bilang di ruang merokok Bandara Kuala Lumpur. Berarti dugaan-dugaan negatif itu salah. Nyatanya Ali sudah di Malaysia menunggu penerbangan ke India.

Aku berjalan cepat menuju tempatnya. Ternyata tidak jauh dari ruang tunggu transit. Di sana, Aku melihat pandangan Ali kosong. Kepalanya sedikit tertunduk sambil memegang sebatang rokok di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang telepon genggam.

Tatapannya tidak berpindah ke arah telepon. Aku menyapa berusaha membuyarkan yang dia pikirkan. Menatap ke wajahku, Ali kembali fokus di telepon. Aku bertanya apa yang terjadi.

“Fajar tidak jadi ikut,” katanya sambil terus menatap layar telepon. Dia seperti sedang mengurusi sesuatu. Sambil memerhatikan apa yang dia lakukan pada gawainya, Aku bertanya apa yang terjadi. Kenapa bisa Fajar tidak ikut. Padahal tiket sudah dia beli.

Beberapa hari sebelum keberangkatan kami sempat bertemu mengecek segala kesiapan. Di situ tampak kami hanya tinggal berangkat. Di hari keberangkatan Fajar juga sudah berada di bandara.

Ternyata masalahnya ada pada nama di visa dia. Di situ tertulis nama dobel. Aku lupa nama lengkapnya. Intinya, di visa nama dia tertulis Fajar Ramadhan Fajar Ramadhan. Itu bukan nama lengkapnya yah. cuma contoh saja.

Rupanya ada kesalahan nama saat mengajukan visa daring. Fajar adalah teman sekantor Ali. Dialah orang yang sangat ingin pergi ke India. Ali diajaknya. Kemudian Ali mengajak Aku. Aku diminta mencari satu orang lagi agar genap. Tapi akhirnya hanya bertiga.

Saat visa sudah keluar, Ali sudah menyarankan agar Fajar mengajukan ulang. Tapi Fajar kukuh dengan percaya diri kalau itu tidak masalah. Ya sudah Ali tidak memaksa. Hingga akhirnya benar-benar dipermasalahkan bagian petugas imigrasi Indonesia.

Ali meminta istrinya agar mengirim surat elektronik ke Kedubes India apa yang sudah dialami Fakar. Kemudian meminta agar kedutaan bisa menerbitkan visa baru. Jika berhasil, Ali meminta Fajar untuk menyusul. Berarti harus membeli tiket lagi dan ketinggalan dua hari di India.

Itu adalah rencana kedua. Sembari memikirkan itu, kami bersiap terbang ke India. Baik pesawat dari Indonesia ke Malaysia dan Malaysia ke India kami menggunakan Malindo Air.

Dari Malaysia kami terbang pukul 16.15 waktu setempat. Perjalanan memakan waktu 5 jam 40 menit dengan waktu India lebih cepat 2 jam 30 menit. Artinya, kami tiba di Negari Bollywood 19.25 waktu setempat.

Horizon India dari pesawat

Selama penerbangan Aku menonton film yang disediakan pesawat. Dua cerita tamat selama di penerbangan. Dari monitor, cuaca di luar berada pada -10 derajat. Ngeri sih. Semoga pesawat tidak membeku. Aku kembali berdoa agar perjalan selamat sampai tujuan.

Saat waktu menunjukkan sekitar 20.15 waktu Malaysia, Aku melihat keluar jendela. Nyatanya terlihat sore. Dari pesawat Aku melihat matahari bakal tenggelam. Aku mengira bakal gelap. Nyatanya salah. Kalau di Jakarta ini seperti 17.30. Di ujung sana berbentuk garis lurus berwarna oranye. Sangat indah.

Akhirnya tiba juga di India. Kami turun di Bandara Delhi Indira Gandhi. Di sini kami masih mengandalkan Wi-Fi umum. Terima kasih fasilitas yang disediakan gratis dan tanpa kata kunci. Ini sungguh sangat membantu walaupun tidak menjamin keamanan.

Bisa saja data dalam telepon dicuri. Tapi Aku berpikir tidak ada data penting. Jadi tidak terlalu masalah jika memang dibajak. Nyatanya memang sedikit ada ketakutan. Tapi masa bodoh karena ini urgen.

Kami berpikir masih belum terlalu membutuhkan sinyal. Beli kartu telepon di bandara sangat mahal di sini. Aku lupa harganya. Antara Rs700 sampai Rs850 (penulisan rupe mata uang India). Kalau dirupiahkan, sekitar Rp180.000 kalau Rs1=Rp200.

Tentu sangat mahal cuma untuk membeli kartu penyedia. Kami berpikir untuk beli di jalan saja. Aku yakin lebih murah. Cerita soal membeli kartu akan ditulis pada bagian selanjutnya.

Sebelum keberangkatan Ali bilang kami sudah harus di sudah ada di Inter State Bus Terminal, Kashmere Gate, New Delhi sebelum jam 10 malam. Itu adalah bus terakhir. kalau memang tidak bisa, kami mengubah rencana.

Kami bergegas ke terminal. Masih ada waktu sekitar dua jam lagi. Akan tetapi kami tidak tahu rute ke Kashmere Gate menggunakan transportasi umum. Ternyata Ali hanya tahu kami akan ke mana saja. Tapi jenis transportasinya apa tidak tahu. Ya maklum saja karena ini baru pertama kali. Akhirnya kami bertanya-tanya.

Metro atau MRT di India. Ini di bawah tanah

Petugas bilang kami bisa menggunakan metro. Dalam bayangan metro itu adalah bus. Maklum sedari orok Aku selalu menaiki metro mini. Jadi kalau dia bilang metro, ya aku pikir sebuah bus. Ternyata itu sebutan untuk moda raya transportasi (MRT).

Jarak dari bandara ke Khasmere Gate adalah 24 kilometer. Ini seperti Pasar Rebo, Pulogebang atau terminal besar antarkota lainnya di Indonesia. Metro pertama adalah kereta bandara. Biayanya adalah Rs60 atau Rp12.000.

Lalu kami transit menaiki metro kedua. Kalau ini MRT. Kenapa Aku membagi dua karena para penumpang harus membayar ulang. Di sini harus beli tiket lagi sebesar Rs20 atau Rp4.000. Dari turun kereta bandara ada jalur berwarna yang menunjukkan rute metro. Untuk tujuan terminal, kami harus mengikuti jalur kuning.

Yang membuat Aku kagum di sini adalah metro berada di bawah tanah dan sangat luas. Dalam benak tidak akan seperti ini. Ternyata dari sisi transportasi umum, India jauh lebih maju dari Indonesia. Sampailah kami di tempat terminal. Mari ke tujuan pertama di India!

Bersambung...

Main Salju di India; Transit di Malaysia Kunjungi Twin Tower, bukan Petronas

Bacaan sebelumnya klik di sini

Sehari sebelum keberangkatan atau lebih tepatnya pada malam hari Aku tidak bisa tidur. Biasa sindrom jalan-jalan. Bawaannya senang dan banyak pikiran akan melakukan apa saja selama perjalanan.

Minggu, 24 Februari pukul 02.00 Aku terbangun. Siap-siap menuju Bandara Soekarno Hatta. Tadinya aku mau membawa motor dan diparkir di sana. Bingung kan kenapa Aku lebih memilih membawa kendaraan pribadi. Nanti akan aku tulis di kesempatan berbeda.

Kembali ke moda transportasi, orang tua melarang. Aku disuruh menggunakan ojek daring saja. Sebagai anak baik aku menurut.

Aku tiba di Malaysia tepat pukul 08.45 waktu setempat setelah terbang pada 05.35 WIB. Sebenarnya perjalanan hanya memakan waktu dua jam. Tapi karena Malaysia lebih cepat sejam, jadi waktu bertambah jadi tiga jam.

Sesuai arahan Ali, aku menyalakan Wi-Fi karena kartu penyedia dari Indonesia tidak tersambung. Kuhubungi Ali dan memberi kabar sudah tiba di Negeri Jiran.

Ali memberikan arahan yang sebenarnya sudah disampaikan sebelumnya. Tapi aku juga memastikan lagi karena praktik dan teori berbeda.

Pada dasarnya bahasa di sini tidak terlalu jauh berbeda. Hanya logatnya saja sangat kentara. Tentu berbicara dengan aksen Jakarta dapat disimpulkan oleh petugas sekitar bahwa aku orang asing.

Di sinilah aku melihat perlakuan orang Malaysia kepada khususnya warga Indonesia berbeda. Ada sedikit diskriminasi dan merendahkan. Petugas jadi tak ramah dan memberikan petunjuk dengan nada kurang senang. Tapi ini perasaan aku saja. Meski ini dirasakan oleh juga teman-teman lain yang pernah ke sana.

Di Malaysia aku berencana ke Petronas. Eettss.... Di sini kalau Kamu menyebut demikian, warga sekitar akan mengira pom bensin. Yang benar adalah Menara Kembar atau Twin Tower.

Tidak heran saat menyebut Petronas yang sebenarnya Twin Tower Aku ditertawakan. Saat itu aku membeli tiket bus tujuan Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA1) ke KL Sentral. Aku lalu mencoba mengakrabkan diri kepada penjaga tiket.

"Berapa waktu yang diperlukan ke Petronas?" Aku bertanya formal agar dipahami. Sebelumnya menggunakan bahasa Jakarta kurang dicerna petugas

Dia bingung. Setelah aku menyebut Twin Tower baru tahu. Penjaga itu lalu menjelaskan seperti yang aku sebut di atas. Dia menertawakan kebodohan aku dengan temannya yang tidak jauh dari kami. Mereka tertawa dan terus diulang-ulang menjadi bahan lelucon.

Awalnya Aku biasa saja. Mungkin karena masih belum mengerti betul apa yang dia tertawakan. Tapi lama kelamaan Aku sadar bahwa mereka sedang mengeksploitasi kebodohan Aku.

Tapi Aku tetap masih biasa saja. Mungkin karena Aku Indon jadi layak mereka perlakukan seperti itu. Inilah efek dari kebencian yang diwariskan turun temurun.

Kesal? Tentu iya. Tapi tanggapi santai. Buatku pengalaman dan tindakan itu menjadi ikut membenci mereka. Sama saja Aku ikut dalam pusaran kebencian antarserumpun. Masih ada cerita dari teman yang Aku dengar lebih pahit.

Bus di bandara benar-benar tepat waktu. Tidak telat semenit. Biaya ke KL Sentral sebesar RM10. Kalau dirupiahkan sekitar Rp35.000. Kita anggap RM1 senilai Rp3.500.

Perjalanan dari KLIA1 ke KL Sentral memakan 1,5 jam. Di hari Minggu jalan tidak terlalu macet. Sangat lengang malah. Tapi aku tidak tahu kalau hari biasa. Yang pasti, kendaraan di sini lebih sedikit.

Busnya bagus dan nyaman. Jarak kaki juga luas. Di sini aku bertemu dengan orang Indonesia yang duduk di sebelah. Aku bersyukur karena bisa bertanya-tanya.

Semua rasa penasaran Aku luapkan di situ. Maklum perjalanan cukup panjang. Mulai dari pilihan rute bandara ke Twin Tower atau sebaliknya sampai dalam rangka apa dia di Malaysia. Sayang, Aku lupa namanya. Hehee

Peron LRT di Malaysia. Sama kan kaya MRT

Sampai di KL Sentral, aku kemudian Kuala Lumpur City Centre (KLCC) menggunakan lintas rel terpadu (LRT). Biayanya RM 3 atau Rp11.000. Turun dari bus ke LRT tidak begitu jauh. Jika diibaratkan, tempat ini seperti Blok M karena tempat pemberhentian bus dan transportasi umum lainnya serta pusat belanja.

Setiap tikungan pasti Aku tanya jalan. Maklum anak baru. Takut tersesat. Tempatnya pun luas. LRT cukup nyaman. Maklum di Indonesia transportasi ini belum ada. Aneh sih kalau negeri tercinta belum punya. Tak heran terus tertinggal.

Tiket sekali pakai LRT. Dia berbentuk koin Dingdong 

Bisa dikatakan dalam beberapa bulan lagi resmi beroperasi setelah dari perjalanan ini. Tapi baru moda raya transportasi (MRT). Bisa dikatakan sejenis lah. Stasiun dan bentuknya juga hampir sama kok.

Perjalanan dari KL Sentral ke KLCC ke Twin Tower kurang dari 20 menit. Aku menikmati setiap jengkal perjalanan dengan melongok bangunan kota Kuala Lumpur dari LRT. Tak jauh berbeda dengan Jakarta rupanya.

Suasana di spot terbaik mengambil gambar Twin Tower

Tiba di Twin Tower kurang dari jam 12.00. Aku punya waktu sekitar 1,5 jam. Ali bilang sebelum jam 14.00 sudah naik bus biar tidak tertinggal pesawat.

Tempat pemberhentian LRT ternyata persis di Twin Tower. Berada di dalam tanah, Aku harus naik permukaan. Aku mencari spot terbaik untuk mendapatkan Twin Tower dari kejauhan. Ternyata di situ banyak orang. Turis dari Indonesia juga banyak.

Selfi dulu

Mereka sepertinya memperhatikan aku. Topi yang aku gunakan mungkin dianggapnya aneh.

Setelah itu Aku membeli makan siang. Ali menyarankan nasi lemak karena harganya lebih murah. Aku tidak tahu bentuknya. Tapi dia bilang isinya nasi, potongan ayam, sambal, dan sayur.

Di KL Sentral sebenarnya aku sudah bertanya dengan petugas di mana tempat makan. Dia berkata yang murah ada di luar gedung. Tapi aku bingung jadi menundanya.

Ternyata dekat KLCC ada tempat makan rumah. Bahkan tidak jauh dari Twin Tower. Di sana juga ada penjual nasi lemak.

Sejak dari KLCC aku bertemu dengan petugas yang ramah. Terbukti tidak semua orang di sini jahat. Tinggal kita saja yang menyikapinya.

Nasi lemak. Murah dan enak

Penjual nasi lemak juga ramah. Tokonya berbentuk seperti food truck. Hanya lebih kecil. Harganya pun murah. RM5 atau Rp17.000. Porsinya banyak dengan nasi pulen. Sangat mengenyangkan.

Setelah itu aku kembali di bandara. Sesuai dengan waktu yang diperkirakan, aku sampai sekitar 14.30. Aku telepon Ali di mana posisinya. Dia bilang di ruang merokok.

"Ada kabar buruk," katanya. Aduh ada apa ini. Padahal sampai India saja belum. Semoga saja liburan ini menyenangkan.

Bersambung...

Faktor Lepas Timor Timur yang Belum Terungkap

Oktober nanti tepat 20 tahun Timor Timur memisahkan diri dari Indonesia. Mereka kemudian mengubah nama menjadi Timur Leste. Merdekanya daerah ini karena Tanah Air tidak bisa menjaga keamanan di sana baik dari dalam maupun luar.

Mengapa aku bisa katakan demikian? Buku Timor Timur the Untold Story menjelaskannya. Di situ diceritakan bagaimana masa-masa darurat sejak 70’an hingga Timor Timur akhirnya merdeka pada Oktober 1999.


Seorang jenderal purnawirawan bernama Kiki Syahnakri menuliskan pengabdiannya selama lebih dari 20 tahun di Tanah Lorosae dalam sebuah buku. Pada bab awal dia menceritakan awal karirnya setelah lulus dari akademi. Di situ Kiki mendapat tugas di Timor Timur. Di daerah itu pula kehidupannya dimulai. Mulai dari asmara hingga menghabiskan sepertiga karirnya di tentara.

The Untold Story bisa dikatakan tentang apa yang sebenarnya belum diketahui banyak orang. Kiki berkisah sejak pertama kali ditugaskan ke sana. Daerah tersebut terbagi antara dua, yaitu Lorosae ingin merdeka atau tetap bersama Indonesia.

Karena berada di Tanah Air, menjadi tugas tentara atau dulu disebut ABRI untuk mengamankan sebuah wilayah. Yang ingin bertahan atau disebut prointegrasi bergabung dengan tentara, sementara prokemerdekaan memilih jalannya sendiri. Mau tidak mau peperangan tidak bisa dihindari.

Terlepas dari itu, Kiki mencoba melakukan pendekatan lain agar Timor Timur tetap bersama Indonesia. Dia memilih persuasif dibandingkan kekerasan. Maka tidak heran ada beberapa lawan yang tertangkap terkadang membantu tentara.

Karena harus dekat dengan rakyat, Kiki harus sering bersosialisasi. Dalam buku ini dia sering kali datang pada acara adat sampai keagamaan meski berbeda keyakinan. Itu dia lakukan demi mencipatakan kesan tentara benar-benar melindungi bukan dengan cara kejam.

The Untold Story menulis secara rutut dari tahun ke tahun. Semua pengalaman hingga pembicaraan terkadang tertuang dalam buku ini. Semua kejadian, salah satunya suasana tentara saat menyusuri hutan mencari prokemerdekaan diceritakan secara rinci. Pembaca seakan-akan dibuat berada pada peristiwa itu.

Yang menarik dalam buku ini, ada tokoh-tokoh nasional yang masuk dalam peristiwa. Salah satunya adalah Luhut Binsar Pandjaitan dan Prabowo Subianto. Momen antara Kiki dengan Luhut tidak terlalu banyak ditulis. Dia malah membuat sub judul bersama Prabowo.

Buku ini memberi penegasan berjudul Berselisih Paham dengan Prabowo Subianto. Peristiwa itu terjadi pada 1995 saat Kolonel Prabowo yang menjadi Wakil Komandan Kopassus menjalankan operasi  khusus bernama Operasi Melati.

Perselihan terjadi karena Prabowo ingin membuat massa tandingan atas gejolak warga yang ingin ada otonomi khusus bagi Timor Timur. Kiki tentu menolak karena ini malah membuat konflik horizontal. Jika itu terjadi, Indonesia khususnya tentara kembali dicap melanggar hak asasi manusia (HAM).

Dia merasa apa yang telah dilakukan, yaitu mengalihkan perhatian warga dengan mengadakan acara rakyat lebih baik. Karena itulah Kiki menolak mentah-mentah.

“Saya mengetahui persis karakter Prabowo yang berkemauan keras, mudah emosinal, dan sukar dibantah keinginannya. Tapi, pada titik ini saya pun tidak boleh mengalah, apalagi membiarkan gagasan itu dilaksanakan,” halaman 198.

Dalam buku ini Kiki menerangkan bahwa salah satu penyebab Indonesia bisa melepaskan Timor Timur karena ada campur tangan Amerika dan Australia. Ditambah lagi mereka lebih dekat dengan media massa sehingga bisa membangun opini publik. kabar bohong terus diembus menyerang ABRI. Hingga akhirnya Lorosae merdeka.

Buku Timor Timur the Untold Story adalah bacaan yang Aku rekomendasikan. Seperti judulnya, ini adalah cerita yang tidak banyak dipublikasikan melalui media massa. Akan tetapi sejarah itu adalah pengalaman individu. Oleh karena itu, Kamu tidak hanya cukup membaca buku ini untuk mengetahui lebih dalam tentang Timor Timur.

Selamat membaca!